Cerita dari Klaten

Oleh Fahrul Rozi, Koordinator Distrik Kabupaten Klaten

Pada 2018, Yayasan Ipas Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Klaten untuk menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi). Program ini berfokus pada upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), penurunan angka Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD), dan peningkatan status kesehatan reproduksi perempuan.

Ada beberapa ruang lingkup PEKERTi, seperti pendidikan yang melibatkan masyarakat dalam pencegahan KTD, peningkatan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan reproduksi, penguatan serta pengembangan model layanan kesehatan reproduksi berkualitas untuk perencanaan kehamilan dan KB, penanganan KTD juga Asuhan Pasca Keguguran yang komprehensif dan ramah perempuan, serta kajian-kajian medis dan sosial terkait kesehatan reproduksi perempuan.

Di Provinsi Jawa Tengah, Klaten termasuk dalam kabupaten yang memiliki AKI saat melahirkan tinggi. Pada 2019 Klaten berada di urutan 10, sebelumnya pada 2018 kabupaten ini berada di urutan 13. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan, Klaten sempat mengalami penurunan AKI dari 18 kasus kematian pada 2016-2017, menjadi 16 kasus pada 2018. Penyebabnya adalah preeklamsia, perdarahan dan infeksi.

Maka dari itu Yayasan IPAS Indonesia ingin berkontribusi membantu pemerintah Kabupaten Klaten dalam menurunkan AKI. Baik melalui dukungan pada fasilitas kesehatan dengan pelayanan APK yang komprehensif serta membantu masyarakat bersama mitra kami seperti Yayasan SPEKHAM dan PD Aisyiyah Klaten. Fokus kerja yang dilakukan adalah membantu perempuan dan remaja perempuan yang berada di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Klaten Tengah, Kecamatan Juwiring dan Kecamatan Bayat.

Sementara pada fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit dan Puskesmas di Kabupaten Klaten, Yayasan IPAS Indonesia melakukan penguatan 5 elemen layanan APK di RSUD Bagaswaras, RSIA Aisyiyah, Puksesmas Bayat, dan Puskesmas Juwiring.

Kelima elemen tersebut adalah layanan Konseling, pasien berhak mendapatkan konsultasi untuk pemenuhan kebutuhan fisik dan psikisnya; Tata Laksana Medis, pasien berhak mendapatkan informasi dan layanan APK komprehensif yang berpusat pada kebutuhan perempuan dengan tenaga medis yang terlatih dan berpengalaman—karena saat ini masih banyak praktik yang mengunakan kuretase tajam yang mana sudah tidak lagi direkomendasikan oleh WHO dan FIGO. Karenanya, Yayasan IPAS Indonesia mendukung keempat fasilitas kesehatan tersebut beralih menggunakan Aspirasi Vakum Manual (AVM) dan Misoprostol untuk penanganan keguguran, meskipun saat ini di Puskesmas Klaten belum bisa menggunakan AVM, namun setidaknya penegakan medical mentosa bisa menjadi altenatif tindakan penanganan keguguran yang dapat dilakukan.

Elemen ketiga adalah Rujukan ke Layanan Kesehatan Reproduksi atau Kesehatan Lainnya. Saat ini layanan APK rujukan yang telah terlatih untuk penggunaan AVM ada di RSIA Aisyiyah dan RSUD Bagaswaras. Selanjutnya, elemen keempat, Layanan Kontrasepsi dan KB untuk perencanaan kehamilan adalah salah satu cara mengurangi AKI dan AKB. Dan eleman kelima adalah Kemitraan dengan Masyarakat dan Penyedia lainnya merupakan elemen yang tak kalah pentingnya untuk melibatkan organisasi atau komunitas masyarakat dan keagamaan agar proses diseminasi pengetahuan tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) perempuan untuk mencegah keguguran, AKI, dan KTD.

Semua proses dari kelima elemen tersebut dijalankan dengan melatih para tenaga kesehatan yang ada di empat fasilitas kesehatan di Kabupaten Klaten, baik Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED), maupun Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). Melalui program PEKERTi, Yayasan IPAS Indonesia juga mendristribusikan alat pendukung APK seperti AVM dan Misoprostol. Dukungan lainnya adalah memfasilitasi tenaga kesehatan dalam menyusun pemberi pelayanan kesehatan (PPK) sehingga tindakan yang akan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang disepakati, dan pendampingan terkait kebutuhan fasilitas kesehatan serta melakukan evaluasi penatalaksanaan medis.

Adapun peningkatan kapasitas pada para mitra, Yayasan IPAS Indonesia melakukan Training on Trainer (ToT) HKSR sebelum organisasi mitra terjun ke komunitas masyarakat yang bertujuan untuk melibatkan kelompok perempuan dan remaja perempuan menjadi kader kesehatan reproduksi di wilayahnya masing-masing.

.

Kategori

Tag

Dapatkan
Nawala Kami

Berikan Komentar

Leave A Comment