Informasi Data Aborsi Dibutuhkan untuk Pengembangan Layanan

Oleh Yayasan IPAS Indonesia

Di Indonesia isu aborsi masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan dan dibahas secara mendalam. Pada faktanya di Indonesia memperbolehkan aborsi untuk 3 jenis kondisi, yaitu kegawatdaruratan medis, cacat janin berat dan bagi korban perkosaan. Hal ini diatur dalam UU No. 36/2009 dan PP No. 61/2014 dengan ketentuan yang cukup ketat. Meski sudah ada kebijakan hukumnya, tetapi implementasi layanannya belum jelas hingga sekarang.

Pada 27 November 2020 lalu, Yayasan IPAS Indonesia mengadakan kegiatan webinar bertajuk “Kehamilan Tidak Diinginkan dan Kesehatan Reproduksi Perempuan”. Webinar ini sebagai kegiatan peluncuran hasil penelitian tentang estimasi angka kejadian aborsi dan situasi layanan asuhan pasca keguguran di Jawa tahun 2018 oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat – Universitas Indonesia dan Guttmacher Institute.

Pada kajian yang dilakukan oleh tim peneliti terdapat berbagai informasi dan wawasan tentang aborsi di Pulau Jawa, termasuk estimasi angka kejadian, siapa yang mengalaminya, metode yang digunakan, dan kondisi layanan di fasilitas kesehatan.

Menurut Prof. dr. Budi Utomo, MPH., Ph.D, penelitian tentang aborsi akan selamanya sukar karena angka yang dilaporkan sangat kecil. Hukum dan stigma yang ada di masyarakat Indonesia mengenai aborsi mempersulit para peneliti untuk memahami situasi aborsi secara lebih jelas dan akurat, khususnya mengenai angka kejadian aborsi.

Mayorita aborsi dilakukan secara diam-diam dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Sebagian besar perempuan yang pernah mengalami aborsi apabila ditanya melalui survei cenderung tidak mengaku. Sehingga para peneliti menggunakan data kasus asuhan pasca keguguran (APK) di fasilitas kesehatan untuk digunakan sebagai bahan dasar data kasus aborsi dengan komplikasi yang menerima perawatan. Namun, dari data rekam medis kasus APK pun sebenarnya sulit untuk membedakan antara kasus aborsi dan kasus keguguran spontan.

Dari hasil penelitian tersebut diperkirakan terdapat hampir 1,7 juta kejadian aborsi yang dialami oleh perempuan di Jawa sepanjang tahun 2018. Sebagian besar dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan dengan menggunakan jamu atau pil yang tidak diketahui keamanannya. Sekitar 1 dari 5 perempuan yang mengalami aborsi tidak aman mengalami komplikasi dan sebagai besar di antaranya akhirnya mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.

Untuk memperkirakan kejadian aborsi, para peneliti telah mengembangkan suatu metode estimasi yang dikenal dengan Metode Komplikasi Kejadian Aborsi (AICM). Penggunaan metode ini didukung oleh pemerintah dan tenaga kesehatan di banyak negara, dan sudah digunakan sejak 1990-an di lebih dari 20 negara.

Tujuan dari penyebaran hasil penelitian ini adalah mengajak segenap pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kontrasepsi/KB, layanan asuhan pasca keguguran (APK), dan pendidikan kesehatan reproduksi.

Layanan APK dianggap dapat mencegah komplikasi yang terjadi akibat keguguran, termasuk aborsi yang tidak aman yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius hingga kematian. Selain tatalaksana media yang terdiri dari evakuasi sisa hasil konsepsi, pengelolaan infeksi dan pengobatan cedera yang diakibatkan oleh prosedur tidak aman, APK juga mencakup konseling kesehatan seksual dan reproduksi serta memastikan akses ke pelayanan kesehatan lan yang berkaitan, seperti kontrasepsi atau KB.

Untuk mengetahui lebih lanjut data-data dari hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut, pembaca dapat mengunjungi halaman Publikasi atau Hasil Studi atau Lembar Fakta.

Kategori

Tag

Dapatkan
Nawala Kami

Berikan Komentar

Leave A Comment