Pertama-tama itu saya kurang percaya diri dulu. Karena apa yang mau saya sampaikan, saya harus tahu, tahu lebih lanjut, tahu hal-hal yang mau saya sampaikan. Isinya itu saya harus tahu dulu.
Sri Wahyuni Kader Komunitas di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Sri adalah satu dari 20 (dua puluh) warga yang tergabung dalam komunitas Arkasa. Sebuah kelompok di Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang dilatih untuk menjadi pendamping korban kekerasan.
Bagi Sri, isu kekerasan seperti KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) sebetulnya tidak asing. Banyak warga, terutama perempuan, yang kerap berkeluh kesah kepadanya. Hal itu tak lepas dari posisi Sri yang aktif menjadi anggota PKK sejak 2010. Sepuluh tahun kemudian, ia menjadi Ketua PKK.

“Sebelum ada Arkasa, di Kelurahan Bergas Lor itu banyak sekali kekerasan. Cuma tidak tercover dan tidak tahu bagaimana caranya mendampingi. Karena apa? Karena kita sendiri juga tidak tahu ke mana arah kekerasan itu mau dibawa,” kenang Sri.
Padahal, ia mengaku kerap mendapatkan aduan dari warganya. “Kadang-kadang warga curhat. Cuma curhatnya itu tidak boleh diomongin sama siapa-siapa. Terus, ya kekerasannya ditangani diam-diam,” tegasnya.
Yayasan IPAS Indonesia meluncurkan proyek ARUNIKA (Perempuan Berdaya untuk Menuju Indonesia Bebas Kekerasan) pada bulan November 2024 dengan wilayah kerja Kota Surakarta, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. ARUNIKA bertujuan untuk meningkatkan akses layanan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang berkualitas. LBH APIK Semarang merupakan salah satu mitra dari proyek ini.
Awal terbentuknya Arkasa
Arkasa sendiri dibentuk pada Februari 2025 yang diinisiasi oleh mitra Yayasan IPAS Indonesia, LBH APIK Semarang, melalui proyek ARUNIKA.
Bagi Sri, Arkasa dimaknai sebagai orang yang anak yang kuat dan tangguh. Ia berharap dengan adanya komunitas Arkasa, warga di kelurahannya tangguh dalam menghadapi kekerasan yang terjadi. Warganya pun kuat dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan.
Awal mula terbentuknya Arkasa, Sri dihubungi oleh pihak kelurahan. Setelah itu, Sri menunjukkan kesediaannya untuk berkoordinasi dengan LBH APIK Semarang. Tugas awal Sri adalah mencari anggota lain untuk bergabung dengan Arkasa. Hingga kini, total anggota yang tergabung adalah 20 orang.
“Kita mencari orang itu juga tidak gampang. Misalnya kalau tidak sanggup, kita juga tidak bisa memaksakan waktu mereka. Karena kita itu cari orangnya yang sanggup dulu dan mau dulu, itu terus kita bentuk,” kenang Sri.

Setelah terbentuk, Sri dan 19 anggota Arkasa ikut dalam pelatihan mulai dari dasar-dasar gender, kekerasan hingga bagaimana melakukan pendampingan korban dari LBH APIK Semarang. Setelah pelatihan itu, mereka ikut dalam pertemuan dua bulanan untuk membagikan pengalaman dan juga tantangan dalam menangani kasus.
“Pelatihan itu membuat saya itu terbuka soal kesehatan reproduksi. Terus kita juga ada simulasi dalam pengadilan, dan kita juga dilatih untuk misalnya pendampingan kasus supaya kasus itu tidak terungkap kemana-mana, semua ilmu itu dari mereka kita tahu,” ujarnya.
Dari pelatihan ke pendampingan kasus
Sejak pelatihan itu, Sri mengaku sudah ada dua kasus kekerasan yang ia tangani untuk periode Mei-Oktober 2025. Keduanya merupakan kasus KDRT. Kedua kasus tersebut memang masih proses pendampingan karena memang menyesuaikan dengan keinginan korban. Ia juga masih berkoordinasi dengan LBH APIK Semarang karena ada kasus yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
“Ini kalau untuk pendampingan korban kekerasan ya baru pertama kali. Ya rasanya masih deg-degan. Apakah saya bisa? Karena aku belum pernah bertatap muka dengan orang-orang yang di lembaga hukum, takutnya itu salah-salah ngomong gitu loh,” ungkapnya.

Meski masih kurang percaya diri, Sri tetap maju untuk memilih jalan ini. Untuk memperkenalkan Arkasa dan juga isu soal kekerasan, ia kerap melakukan pertemuan dengan warga untuk memberikan edukasi pentingnya tahu soal isu ini dan bagaimana mengakses bantuan kalau terjadi kekerasan. Dalam periode Juni-Agustus 2025, Sri bersama Arkasa telah melakukan 13 kali pertemuan untuk mensosialisasikan soal kekerasan.
Dari Sri kita belajar kepedulian bisa mendorong untuk terus belajar. Ia yang ragu tapi mau dan peduli untuk mengambil bagian untuk isu kekerasan. Ia adalah bukti nyata bahwa perubahan dimulai dari keberanian seseorang untuk mengambil bagian. Sri bukan hanya seorang kader, ia adalah harapan bagi perempuan lain yang masih berjuang dalam diam.


