Dari Dapur ke Balai Desa: Perjalanan Mama Nela Menemukan Arti Keluarga Berencana

Ditulis oleh Katarina B Koten.

Pagi hari di Desa Tuawolo, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, selalu dimulai dengan suara ayam berkokok dan dentingan panci dari dapur rumah Mama Petronela Sura Pati.

Desa Tuawolo terletak di sebelah barat Gunung Boleng, gunung berapi yang menjadi kebanggaan warga Adonara. Letaknya yang berada di lereng menjadikan udara di desa ini sejuk dan segar, terutama di pagi hari kadang kabut masih turun menyelimuti atap-atap rumah penduduk.

Di tengah kesejukan itu, Mama Petronela atau akrab disapa Mama Nela sudah sibuk sejak matahari belum muncul. Tangan kanannya menggoyang sendok di atas wajan, sementara tangan kirinya menggendong anak bungsu yang menangis minta perhatian.

Empat anak dengan jarak usia berdekatan membuat hari-harinya selalu penuh kesibukan. Ketika satu anak baru belajar berjalan, satu lagi sudah lahir. “Dulu saya pikir itu hal biasa. Anak kan rezeki dari Tuhan,” katanya sambil tersenyum tipis, mengenang masa-masa sulit itu.

Sejak kecil, Perempuan berkelahiran 2 juli 1975 ini tumbuh dengan keyakinan bahwa mengikuti program Keluarga Berencana (KB) berarti menolak anugerah Tuhan. “Saya takut pakai pil KB, karena katanya bisa mandul,” ujarnya lirih. Pandangan itu ia peroleh dari cerita orang-orang di kampung. Tidak ada yang menjelaskan apa sebenarnya arti KB yang sesungguhnya.

Hari demi hari ia jalani dengan tubuh yang kian lelah. Semua pekerjaan rumah ia lakukan seorang diri dua tahun berjalan. Suaminya merantau untuk mencari nafkah, sementara Mama Nela mengurus anak, mencuci, memasak, dan bekerja di kebun kecil di belakang rumah.

Malam hari, tangisan anak-anak sering memecah keheningan, berebut pelukan ibu mereka. “Kadang saya menangis diam-diam. Rasanya hidup cuma masak, cuci, dan tenangkan anak,” kenangnya pelan sambil mengelus rambut bungsu di pangkuannya.

Titik balik hidupnya datang tanpa disangka. Suatu hari, di Balai Desa Tuawolo, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dari Larantuka bernama Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) mengadakan sosialisasi program kesehatan perempuan bernama TAKENUSA atau Tekad Bersama untuk Kesehatan Perempuan Nusa Tenggara.

Awalnya, Mama Nela datang hanya karena diajak oleh kerabatnya. Ia duduk di barisan paling belakang dan menyimak dengan cermat penjelasan tentang kesehatan reproduksi, KB, dan Asuhan Pasca Keguguran. Saat narasumber menjelaskan bahwa KB bukan menolak anak, melainkan mengatur jarak kehamilan agar ibu sehat dan anak tumbuh baik, Mama Nela tertegun.

“Selama ini saya salah paham,” ucapnya lirih. Sejak saat itu, Mama Nela memutuskan untuk belajar lebih banyak. Ia mengikuti sesi konseling dan mulai menggunakan metode KB yang sesuai dengan kondisinya.

Perubahan pandangan itu membawa angin segar dalam hidupnya. Tubuhnya kini lebih bugar, pikirannya lebih tenang. Dengan mesin jahit tua peninggalan ibunya, ia mulai menjahit pakaian di rumah. Awalnya hanya memperbaiki baju tetangga, namun lama-kelamaan banyak yang datang membawa kain untuk dijadikan baju. Hasil jahitannya kini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.

Di setiap pertemuan dengan pelanggan jahitannya, arisan, kegiatan PKK, hingga acara kampung, Mama Nela selalu mencuri perhatian. Ia berbagi cerita dengan tutur yang sederhana dan mudah dipahami semua orang. “Kalau kita ikut program KB, tubuh bisa istirahat, anak tumbuh sehat, dan ibu tetap kuat,” katanya dengan senyum hangat.

Pelan tapi pasti, pesan itu mulai meresap di hati para ibu di desanya. Dari obrolan ringan di bawah pohon hingga diskusi resmi di balai desa, suara lembut Mama Nela menjadi jembatan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak melalui program KB.

Kini, di Desa Tuawolo desa kecil yang sejuk di lereng Gunung Boleng nama Mama Nela dikenal sebagai agen perubahan. Perempuan yang dulu takut dan salah paham soal KB, kini menjadi sumber informasi bagi banyak orang. Ia tak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga memberi harapan bagi perempuan lain untuk berani mengambil kendali atas tubuh dan masa depan mereka.

“Pengetahuan yang saya miliki ini tidak cukup untuk diri saya sendiri,” katanya dengan mata yang penuh keyakinan, “tapi juga saya ingin semua keluarga khususnya ibu-ibu lain agar berani mengambil Keputusan yang tepat untuk masa depan keluaraga mereka.” Sambungnya.

Mama Nela berkeyakinan bahwa masyarakat Flores Timur khususnya Pulau Adonara masih banyak yang belum memahami dengan baik Program KB. Apalagi memiliki tantangan budaya patriarki dan wajib memiliki anak laki-laki dalam sebuah perkawinan. Di balik itu dia berharap pemerintah dan petugas kesehatan jangan berhenti memberi pemahaman seperti yang dilakukan oleh YPPS.

“Saya yakin, masyarakat Flores Timur, terutama di Pulau Adonara, masih banyak yang belum benar-benar memahami program KB,” ujar Mama Nela dengan lembut namun tegas. “Apalagi kebiasaan kami bahwa setiap perkawinan harus punya anak laki-laki.” Ia lalu menambahkan, “Tapi saya berharap, pemerintah dan para petugas kesehatan tidak berhenti memberi pemahaman kepada masyarakat, seperti yang sudah dilakukan oleh yayasan ini.”

Baginya, perubahan dimulai dari kesadaran kecil bahwa menjadi ibu bukan berarti kehilangan diri sendiri. Dari kelelahan, ia menemukan kekuatan. Dari kesalahpahaman, ia menemukan pengetahuan. Dan dari sanalah, tumbuh semangat untuk mengubah hidup bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk desanya.

Gulir ke Atas