Misi Terpatri di Hati Meriani

Ditulis oleh: Wemrits Nenohaifeto

Namanya Meriani Tefnay. Ia adalah Kader Posyandu dari Desa Sunu, desa kecil yang terletak di pucak Gunung Sunu dan berjarak 40 kilometer sebelah timur Kota Soe, Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga memanggilnya dengan Mama Meri. Perempuan berusia 42 tahun sekaligus ibu tiga anak ini memiliki misi besar di hati yang beriringan dengan kesehariannya menjadi ibu rumah tangga.

“Saya memang punya jabatan ganda di desa ini, termasuk fasilitator kader kesehatan masyarakat,” ujar Meri bersemangat. Mulanya, Mama Meri berkenalan dengan Program TAKENUSA (Tekad Bersama untuk Kesehatan Perempuan Nusa Tenggara) memulai di Desa Sunu akhir tahun 2023 silam.

Mama Meri, seorang ibu rumah tangga biasa, memiliki visi besar untuk meningkatkan kesehatan reproduksi di desanya. Melihat masih banyak perempuan yang melahirkan di rumah tanpa bantuan tenaga kesehatan yang memadai, Mama Meri termotivasi untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan semangat dan tekad yang kuat, ia mengikuti program kesehatan reproduksi dan menjadi fasilitator di desanya. Selain itu, Mama Meri juga aktif sebagai anggota kader posyandu dan majelis gereja, membuatnya semakin dekat dengan masyarakat.

Awalnya, masyarakat desa meragukan kemampuan Mama Meri sebagai “perempuan biasa” untuk memberikan informasi kesehatan. Banyak yang lebih percaya pada tenaga kesehatan profesional daripada kader desa seperti Mama Meri. Namun, Mama Meri tidak menyerah. Ia terus melakukan kunjungan rumah ke rumah, membagikan informasi tentang pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dan program Keluarga Berencana (KB).

Tantangan yang dihadapi Mama Meri tidaklah ringan. Desa tempat tinggalnya berjarak 20 kilometer dari Puskesmas, dengan akses jalan berbatu dan harus menyeberangi sungai jika musim hujan. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat Mama Meri untuk membantu masyarakatnya. Ia terus berjuang untuk meyakinkan ibu-ibu di desanya untuk melahirkan di Puskesmas dan mengikuti program KB.

Salah satu kunjungan rumah yang paling menegangkan adalah saat ia mengunjungi Mama Aksamina Lopo, seorang ibu yang sudah enam kali melahirkan di rumah. Mama Meri datang ke rumah Mama Aksamina bukan hanya sebagai tamu biasa, tetapi sebagai pembawa informasi yang berharga tentang kesehatan reproduksi dan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan.

“Ini bertamu yang berisi” tegas Mama Meri. Dengan sabar dan penuh empati, Mama Meri menjelaskan manfaat program KB dan bagaimana Puskesmas dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan anak. Kunjungan ini menjadi titik balik bagi Mama Aksamina, yang kemudian memutuskan untuk melahirkan anak ketujuhnya di Puskesmas dan mengikuti program KB.

Mama Meri memulai percakapan dengan empati, “Mama Aksamina, saya tahu Mama sudah berpengalaman melahirkan enam kali di rumah, dan semuanya berjalan lancar. Namun, saya ingin berbagi informasi tentang pentingnya melahirkan di Puskesmas. Dengan fasilitas kesehatan yang lengkap dan tenaga medis yang terlatih, ibu dapat memastikan keselamatan diri dan bayi.”

Mama Aksamina tampak ragu, tapi Mama Meri terus menjelaskan dengan sabar, “Saya tidak ingin Mama mengambil risiko yang tidak perlu. Melahirkan di Puskesmas tidak hanya tentang keselamatan ibu dan bayi, tapi juga tentang kualitas hidup keluarga. Ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga, kan?”

Setelah mendengarkan penjelasan Mama Meri, Mama Aksamina mulai mempertimbangkan untuk melahirkan di Puskesmas. Mama Meri kemudian menawarkan untuk mendampingi Mama Aksamina ke Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan bidan desa. Dengan demikian, Mama Aksamina merasa lebih yakin dan percaya diri untuk membuat keputusan yang tepat untuk kesehatannya.

Mama Meri (tengah) saat menjadi narasumber di Jambore Kader TAKENUSA.

Saat hari persalinan tiba, Mama Meri langsung mendampingi Mama Aksamina dari desa ke Puskesmas. Mama Meri memastikan Mama Aksamina merasa nyaman dan aman selama perjalanan, karena ini pengalaman pertama melahirkan di tempat yang berbeda dengan sebelumnya.

Setelah tiba di Puskesmas, Mama Aksamina langsung ditangani oleh tim medis yang siap membantu. Mama Meri membantu memfasilitasi komunikasi antara Mama Aksamina dan tim medis, memastikan bahwa semua kebutuhan ibu dan bayi terpenuhi. Dengan bantuan tenaga medis yang profesional, proses persalinan berjalan lancar dan aman.

Setelah melahirkan, Mama Aksamina diberikan penjelasan tentang perawatan bayi dan dirinya sendiri. Mama Meri juga membantu memfasilitasi proses pendaftaran program KB untuk Mama Aksamina, sehingga ibu dapat mengatur jarak kehamilan dan meningkatkan kesehatan keluarga.

Dengan dukungan dan perawatan yang tepat, Mama Aksamina dan bayinya dapat pulih dengan baik. Mama Meri terus mengunjungi mereka untuk memastikan kondisi kesehatan mereka stabil dan memberikan dukungan moral yang dibutuhkan.

“Bertamu yang berisi” ini menjadi titik balik dalam perjalanan Mama Meri. Masyarakat mulai melihat perubahan positif dan percaya pada kemampuan Mama Meri sebagai fasilitator kesehatan. Mama Meri membuktikan bahwa melayani masyarakat tidak harus berpendidikan tinggi atau menjadi dokter/bidan. Kader posyandu yang aktif dan peduli bisa membuat perbedaan besar dengan melakukan kunjungan rumah dan memberikan edukasi yang tepat.

Kini, Mama Meri terus melakukan kunjungan rumah dan memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat desa. Ia menjadi contoh nyata bahwa semangat dan ketekunan bisa membawa perubahan besar. Semoga ceritanya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Gulir ke Atas