Jurnalis Ambon Diperkuat untuk Meliput Kekerasan Seksual dengan Perspektif Berpihak pada Korban

Jurnalis memiliki peran strategis dalam memastikan korban Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) dapat mengakses haknya secara adil dan bermartabat. Melalui liputan yang berpihak pada korban, media dapat membantu membangun pemahaman publik sekaligus mendorong keadilan.

Untuk memperkuat peran tersebut, Yayasan IPAS Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Jurnalis dalam Peliputan Kasus Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual yang diikuti oleh 25 jurnalis dari Ambon dan Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Pelatihan ini berlangsung pada 23–25 Februari dan menjadi pelatihan pertama di Ambon yang secara khusus membahas isu kekerasan seksual dari perspektif jurnalisme yang sensitif gender.

Materi pelatihan mencakup pemahaman dasar tentang gender dan seksualitas, prinsip peliputan yang menghormati hak serta privasi korban, pemilihan narasumber yang tepat, penyusunan angle dan framing berita, hingga identifikasi risiko dalam peliputan kasus KBGS.

Salah satu fasilitator, Permata Adinda, menilai antusiasme peserta cukup tinggi selama pelatihan berlangsung. Menurutnya, semangat tersebut muncul karena pelatihan ini menjawab kebutuhan jurnalis di Ambon yang selama ini belum banyak mendapatkan ruang pembelajaran khusus terkait peliputan kekerasan seksual.

“Saya rasa, meskipun peningkatan pemahaman peserta bisa jadi berbeda dari satu peserta ke peserta lainnya, tapi workshop ini telah memberikan motivasi bagi mereka untuk berbuat lebih di komunitas, juga mengasah empati dan kepekaan kepada sesama terutama perempuan dan kelompok rentan lainnya,” ujar Adinda.

Meski demikian, Adinda menekankan pentingnya penguatan lanjutan agar sensitivitas gender peserta semakin terasah, khususnya melalui praktik langsung.

“Selain itu tampaknya kemampuan peserta juga perlu diasah dengan praktik menulis dan liputan langsung. Mungkin program seperti fellowship dengan mentoring akan semakin bermanfaat bagi peserta,” imbuhnya.

Dampak pelatihan ini dirasakan langsung oleh peserta. Christin Pesiwarissa salah satu jurnalis peserta, mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengubah cara pandangnya dalam menulis pemberitaan kekerasan seksual.

“Jadi pelatihan ini mengubah cara pandang saya agar tidak tergesa-gesa dalam melakukan peliputan karena tidak semua korban kekerasan seksual itu orang dewasa,” ujar Christin.

Dalam sesi diskusi, peserta juga berbagi tantangan yang kerap dihadapi saat meliput kasus KBGS, mulai dari minimnya pemahaman tentang alur pendampingan korban, kebijakan redaksi, hingga kesulitan mencari narasumber yang relevan dan aman bagi korban.

Gulir ke Atas