Pelatihan Layanan Kontrsepsi Bagi Bidan di Tiga Kabupaten di Sulawesi Tengah   

Yayasan IPAS Indonesia menggelar pelatihan layanan kontrasepsi untuk proyek CERAH (Climate Emergency, Reproductive Rights, and Health/Krisis Iklim, Hak dan Kesehatan Reproduksi) pada April hingga Agustus 2025 di Palu, Sulawesi Tengah.   

Proyek CERAH diluncurkan pada November 2024 dengan tujuan untuk memperkuat ketahanan layanan kesehatan primer baik di situasi normal maupun bencana. Salah satu layanannya adalah terkait dengan kontrasepsi.   

Peserta pelatihan ini semuanya bidan dengan jumlah 98 orang dari Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Banyak dari bidan jarang mendapatkan kesempatan untuk memperbaharui ilmu dan mempelajari teknik baru. Misalnya, dulu alat kontrasepsi implan terdiri dari enam batang, akan tetapi sekarang sudah berbeda termasuk pemasangannya.   

“Tetapi sekarang, implan sudah hanya dua batang dan bahkan satu batang saja. Sudah jauh lebih sederhana pemasangannya. Kalau tidak ada pelatihan ini, saya tidak akan tahu,” kata Santi, bidan praktik mandiri yang juga bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.  

“Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya tidak pernah memasang IUD (Intra Uterine Device/Alat Kontrasepsi Dalam Rahim),” ujar Bidan Nila dari Puskesmas Tompe, Kabupaten Donggala. “Tapi di pelatihan ini saya berkesempatan memasang, dan saya jadi merasa lebih percaya diri. Sebelum ini saya pikir hanya dimasukkan saja. Melalui [pelatihan] ini, saya jadi lebih paham.”  

Pentingnya Konseling untuk Layanan Konseling yang Berpusat pada Perempuan   

Untuk mendukung berjalannya pelatihan, Yayasan IPAS Indonesia juga memberikan sepasang Alat Bantu Pengambilan Keputusan Ber-KB (ABPK) dan roda Kriteria Kelayakan Medis Kontrasepsi (KLOP). Kedua alat tersebut dikenalkan untuk mempermudah proses konseling pada awal layanan kontrasepsi akan diberikan.   

Sesi konseling yang baik memastikan bahwa calon akseptor dapat mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan memilih metode kontrasepsi yang paling tepat dan sesuai, serta menapiskan misinformasi atau kekhawatiran yang mungkin dimiliki.   

“Saya rasakan manfaat dari proses konseling itu. Ada yang awalnya mau implan, tetapi kemudian ada indikasi untuk tes kehamilan dan ternyata hasilnya positif. Jadi alhamdulilah sudah ditestpack dulu, kalau dipasang, nanti dibilang implannya tidak berhasil,” ujar Sartika dari Puskesmas Wani, Donggala.   

Reporter: Gisella Tellys  

Gulir ke Atas